Senin, 18 Juli 2011

Sholat

Ibadah shalat merupakan ibadah yang tidak dapat ditinggalkan walau dalam keadaan apapun. Hal ini berbeda dengan ibadah-ibadah yang lain seperti puasa, zakat dan haji. Jika seseorang sedang sakit pada bulan ramadhan dan tidak mampu untuk berpuasa, maka ia boleh tidak berpuasa dan harus menggantinya pada hari lain. Orang yang tidak mampu membayar zakat ia tidak wajib membayar zakat. Demikian pula halnya dengan ibadah haji, bila seseorang tidak mampu maka tidak ada kewjiban baginya.

Shalat adalah ibadah yang wajib dilaksanakan bagi setiap muslim selama masih memiliki akal dan ingatannya masih normal. Kewajiban tersebut harus dilakukan tepat pada waktunya. Halangan untuk tidak mengerjakan shalat hanya ada tiga macam, yaitu hilang akal seperti gila atau tidak sadar, karena tidur dan lupa (namun demikian ada kewajiban mengqadha di waktu lain).









Betapa pentingnya ibadah shalat ini, Rasulullah pernah bersabda :

“Urusan yang memisahkan antara kita (orang-orang Islam) dengan mereka (orang-orang kafir) adalah shalat. Oleh sebab itu siapa yang meninggalkan shalat, sungguh ia telah menjadi kafir.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud).

Shalat Dalam Keadaan Sakit

Orang yang sedang sakit harus tetap melakukan shalat lima waktu, selama akal atau ingatannya masih tetap normal. Cara melaksanakannya sesuai dengan kemampuan orang yang sakit tersebut. Jika ia tidak mampu shalat dengan berdiri, maka ia boleh shalat dengan duduk. Jika ia tidak mampu dengan duduk, boleh shalat dengan berbaring ke sebelah kanan menghadap kiblat. Jika ia tidak mampu berbaring boleh shalat dengan terlentang dan isyarat.

Yang termasuk dalam arti tidak mampu adalah apabila ia mendapatkan kesulitan dalam berdiri atau duduk, atau sakitnya akan bertambah apabila ia berdiri atau ia takut bahaya. Hal ini dijelaskan dalam hadits sebagai berikut :

Dari Ali bin Abu Thalib ra. telah berkata Rasulullah SAW tentang shalat orang sakit : “Jika kuasa seseorang shalatlah dengan berdiri, jika tidak kuasa shalatlah sambil duduk. Jika ia tidak mampu sujud maka isyarat saja dengan kepalanya, tetapi hendaklah sujud lebih rendah daripada ruku;nya. Jika ia tidak kuasa shalat sambil duduk, shalatlah ia dengan berbaring ke sebelah kanan menghadap kiblat. Jika tidak kuasa juga maka shalatlah dengan terlentang, kedua kakinya ke arah kiblat.” (HR. Ad-Daruquthni).

Shalat dalam Kendaraan

Orang yang sedang berada dalam kendaraan mengalami situasi yang berbeda. Ada yang di dalam kendaraan itu bisa tenang seperti dalam kapal laut yang besar, adakalanya sesorang tidak merasa nyaman seperti berada di dalam bis yang sempit. Untuk melakukan shalat di kendaraan ini tentunya di sesuaikan dengan jenis kendaraan yang ditumpanginya.


Rasulullah SAW pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bagaimana cara sholat di atas perahu. Beliau bersabda : “Sholatlah di dalam perahu itu dengan berdiri kecuali kalau kamu takut tenggelam.” (HR. Ad-Daruquthni).

Bila selama perjalanan (dengan kendaraan) itu masih dapat turun dari kendaraan, maka hendaknya kita melaksanakan sholat seperti dalam keadaan normal. Tetapi bila memang tidak ada kesempatan lagi untuk turun dari kendaraan seperti bila naik pesawat terbang, maka kita melakukan shalat di atas kendaraan itu. Hal ini dilakukan mengingat :

1. Shalat adalah ibadah yang wajib dikerjakan pada waktu yang telah ditentukan baik secara normal atau dengan menjama‘. Sedangkan meninggalkan sholat walau dalam safar lalu mengerjakan bukan pada waktunya tidak didapati dalil/contoh dari Rasullullah.

2. Kendaraan di masa Nabi SAW adalah berupa hewan tunggangan (unta, kuda dan lain-lain) yang dapat dengan mudah kita turun dan melakukan shalat. Bila dalam shalat wajib Nabi SAW tidak shalat di atas kendaraannya, maka hal itu karena Nabi melakukan shalat wajib wajib secara berjamaah yang membutuhkan shaf dalam shalat. Atau pun juga beliau ingin shalat wajib itu dilakukan dengan sempurna.

3. Sedangkan kendaraan di masa kini bukan berbentuk hewan tunggangan, tetapi bisa berbentuk kapal laut, kapal terbang, bus atau kereta api. Jenis kendaraan ini ibarat rumah yang berjalan karena besar dan sesorang bisa melakukan shalat dengan sempurna termasuk berdiri, duduk, sujud dan sebagainya. Dan meski tidak bisa dilakukan dengan sempurna, para ulama membolehkan shalat sambil duduk dan berisyarat. Selain itu kendaraan ini tidak bisa diberhentikan sembarang waktu karena merupakan angkutan massal yang telah memiliki jadwal tersendiri.

4. Tetapi bila kita naik mobil pribadi atau sepeda motor, maka sebaiknya berhenti, turun dan melakukan shalat wajib di suatu tempat agar bisa melakukannya dengan sempurna.

5. Sedangkan riwayat yang mengatakan bahwa Nabi tidak pernah shalat wajib di atas kendaraan juga diimbangi dengan riwayat yang menceritakan bahwa Nabi SAW berperang sambil shalat di atas kuda/ kendaraan. Tentunya ini bukan salat sunnah tetapi shalat wajib karena shalat wajib waktunya telah ditetapkan.


Rahasia dibalik shalat lima waktu

Ali bin Abi Talib r.a. berkata, "Sewaktu Rasullullah SAW duduk bersama para sahabat Muhajirin dan Ansar, maka dengan tiba-tiba datanglah satu rombongan orang-orang Yahudi lalu berkata, 'Ya Muhammad, kami hendak bertanya kepada kamu kalimat-kalimat yang telah diberikan oleh Allah kepada Nabi Musa A.S. yang tidak diberikan kecuali kepada para Nabi utusan Allah atau malaikat muqarrab.'

Lalu Rasullullah SAW bersabda, 'Silahkan apa yang hendak kalian tanyakan.'

Berkata orang Yahudi, 'Coba terangkan kepada kami tentang 5 waktu yang diwajibkan oleh Allah ke atas umatmu.'

Sabda Rasullullah saw, 'Shalat Zuhur jika tergelincir matahari, maka bertasbihlah segala sesuatu kepada Tuhannya. Shalat Asar itu ialah saat ketika Nabi Adam a.s. memakan buah khuldi. Shalat Maghrib itu adalah saat Allah menerima taubat Nabi Adam a.s. Maka setiap mukmin yang bershalat Maghrib dengan ikhlas dan kemudian dia berdoa meminta sesuatu pada Allah maka pasti Allah akan mengkabulkan permintaannya. Shalat Isya itu ialah shalat yang dikerjakan oleh para Rasul sebelumku. Shalat Subuh adalah sebelum terbit matahari. Ini kerana apabila matahari terbit, terbitnya di antara dua tanduk syaitan dan di situ sujudnya setiap orang kafir.'

Setelah orang Yahudi mendengar penjelasan dari Rasullullah saw, lalu mereka berkata, 'Memang benar apa yang kamu katakan itu Muhammad. Katakanlah kepada kami apakah pahala yang akan diperoleh oleh orang yang shalat.'

Rasullullah SAW bersabda, 'Jagalah waktu-waktu shalat terutama shalat yang pertengahan. Shalat Zuhur, pada saat itu nyalanya neraka Jahanam. Orang-orang mukmin yang mengerjakan shalat pada ketika itu akan diharamkan ke atasnya uap api neraka Jahanam pada hari Kiamat.'

Sabda Rasullullah saw lagi, 'Manakala shalat Asar, adalah saat di mana Nabi Adam a.s. memakan buah khuldi. Orang-orang mukmin yang mengerjakan shalat Asar akan diampunkan dosanya seperti bayi yang baru lahir.'

Selepas itu Rasullullah saw membaca ayat yang bermaksud, 'Jagalah waktu-waktu shalat terutama sekali shalat yang pertengahan. Shalat Maghrib itu adalah saat di mana taubat Nabi Adam a.s. diterima. Seorang mukmin yang ikhlas mengerjakan shalat Maghrib kemudian meminta sesuatu daripada Allah, maka Allah akan perkenankan.'

Sabda Rasullullah saw, 'Shalat Isya’ (atamah). Katakan kubur itu adalah sangat gelap dan begitu juga pada hari Kiamat, maka seorang mukmin yang berjalan dalam malam yang gelap untuk pergi menunaikan shalat Isya berjamaah, Allah S.W.T haramkan dirinya daripada terkena nyala api neraka dan diberikan kepadanya cahaya untuk menyeberangi jembatan Sirathal mustaqim.'

Sabda Rasullullah saw seterusnya, 'Shalat Subuh pula, seseorang mukmin yang mengerjakan shalat Subuh selama 40 hari secara berjamaah, diberikan kepadanya oleh Allah S.W.T dua kebebasan yaitu:

1. Dibebaskan daripada api neraka.

2. Dibebaskan dari nifaq.






Rasulullah SAW. bersabda, "Barangsiapa menjaga shalat, niscaya di muliakan oleh Allah dengan lima kemuliaan" :

1. Allah menghilangkan kesempitan hidupnya
2. Allah hilangkan siksa kubur darinya
3. Allah akan memberikan buku catatan amalnya dengan tangan kanannya
4. Dia akan melewati jembatan (Shirat) bagaikan kilat
5. Akan masuk syurga tanpa hisab

Dan barangsiapa yang menyepelekan shalat, niscaya Allah akan mengazabnya dengan lima belas siksaan ; enam siksa di dunia, tiga siksaan ketika mati, tiga siksaan ketika masuk liang kubur dan tiga siksaan ketika bertemu dengan Tuhannya (akhirat).

Adapun siksa di dunia adalah :

1. Dicabut keberkahan umurnya
2. Dihapus tanda orang saleh dari wajahnya
3. Setiap amal yang dikerjakan, tidak diberi pahala oleh Allah
4. Tidak diterima do'anya
5. Tidak termasuk bagian dari do'anya orang-orang saleh
6. Keluar ruhnya (mati) tanpa membawa iman
7.

Adapun siksa ketika akan mati :

1. Mati dalam keadaan hina
2. Mati dalam keadaan lapar
3. Mati dalam keadaan haus, yang seandainya diberikan semua air laut tidak akan menghilangkan rasa hausnya

Adapun siksa kubur :

1. Allah menyempitkan liang kuburnya sehingga bersilang tulang rusuknya
2. Tubuhnya dipanggang di atas bara api siang dan malam
3. Dalam kuburnya terdapat ular yang bernama Suja'ul Aqro' yang akan menerkamnya karena menyia-nyiakan shalat. Ular itu akan menyiksanya, yang lamanya sesuai dengan waktu shalat

Adapun siksa yang menimpanya waktu bertemu dengan Tuhan:

1. Apabila langit telah terbuka, maka malaikat datang kepadanya dengan membawa rantai. Panjang rantai tsb. tujuh hasta. Rantai itu digantungkan ke leher orang tersebut, kemudian dimasukkan ke dalam mulutnya dan keluar dari duburnya. Lalu malaikat mengumumkan : 'Ini adalah balasan orang yang menyepelekan perintah Allah'. Ibnu Abbas r.a berkata, 'seandainya lingkaran rantai itu jatuh ke bumi pasti dapat membakar bumi'.
2. Allah tidak memandangnya dengan pandangan kasih sayang-Nya Allah tidak mensucikannya dan baginya siksa yang pedih.
3. Menjadi hitam pada hari kiamat wajah orang yang meninggalkan shalat, dan sesungguhnya dalam neraka Jahannam terdapat jurang yang disebut "Lam-lam". Di dalamnya terdapat banyak ular, setiap ular itu sebesar leher unta, panjangnya sepanjang perjalanan sebulan. Ular itu menyengat orang yang meninggalkan shalat sampai mendidih bisanya dalam tubuh orang itu selama tujuh puluh tahun kemudian membusuk dagingnya.

Sumber: Risalah As Sayyid Ahmad Dahlan Hafidz Al Mundziri, terjemah kitab At Targhiib wat Tarhiib, hal 32


Dosa Meninggalkan Shalat Fardhu :
1. Shalat Subuh : satu kali meninggalkan akan dimasukkan ke dalam neraka selama 30 tahun yang sama dengan 60.000 tahun di dunia.
2. Shalat Zuhur : satu kalo meninggalkan dosanya sama dengan membunuh 1.000 orang umat islam.
3. Shalat Ashar : satu kali meninggalkan dosanya sama dengan menutup/meruntuhkan ka’bah.
4. Shalat Magrib : satu kali meninggalkan dosanya sama dengan berzina dengan orangtua.
5. Shalat Isya : satu kali meninggalkan tidak akan di ridhoi Allah SWT tinggal di bumi atau di bawah langit serta makan dan minum dari nikmatnya.

Orang yang meninggalkan shalat fardhu dengan sengaja berarti ia telah melakukan dosa yang teramat besar. Dosanya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih besar daripada dosa membunuh jiwa yang tidak halal untuk dibunuh, atau dosa mengambil harta orang lain secara batil, atau dosa zina, mencuri dan minum khamr. Meninggalkan shalat berarti menghadapkan diri kepada hukuman Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kemurkaan-Nya. Ia akan dihinakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala baik di dunia maupun di akhiratnya. (Ash-Shalatu wa Hukmu Tarikiha, Ibnul Qayyim rahimahullahu, hal. 7)

Tentang hukuman di akhirat bagi orang yang menyia-nyiakan shalat dinyatakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya:

مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ. قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّيْنَ

“Apakah yang memasukkan kalian ke dalam neraka Saqar?” Mereka menjawab, “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat….” (Al-Muddatstsir: 42-43)

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّيْنَ الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلاَتِهِمْ سَاهُوْنَ

“Maka celakalah orang-orang yang shalat, yaitu mereka yang lalai dari mengerjakan shalatnya….” (Al-Ma’un: 4-5)

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلاَةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا

“Maka datanglah setelah mereka, pengganti yang jelek yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak mereka akan menemui kerugian2.” (Maryam: 59)

Demikian pula hadits Buraidah ibnul Hushaib radhiyallahu 'anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْعَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهُ فَقَدْ كَفَرَ

“Perjanjian antara kita dan mereka adalah shalat, maka barangsiapa yang meninggalkan shalat berarti ia kafir.” (HR. Ahmad 5/346, At-Tirmidzi no. 2621, Ibnu Majah no. 1079 dan selainnya. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih At-Tirmidzi, Al-Misykat no. 574 dan juga dalam Shahih At-Targhib wat Tarhib hal. 299) [Lihat Tharhut Tatsrib, 1/323]

Dalam dua hadits di atas dinyatakan secara umum “meninggalkan shalat” tanpa ada penyebutan “meninggalkan karena menentang kewajibannya”. Berarti ancaman dalam hadits diberlakukan secara umum, baik bagi orang yang meninggalkan shalat karena menentang kewajibannya atau pun tidak.

Hadits Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ الْمُسْلِمُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلاَةُ الْمَكْتُوْبَةُ، فَإِنْ أَتَمَّهَا وَإِلاَّ قِيْلَ: انْظُرُوا هَلْ لَهُ مِنْ تَطَوُّعٍ؟ فَإِنْ كاَنَ لَهُ تَطَوُّعٌ أُكْمِلَتِ الْفَرِيْضَةُ مِنْ تَطَوُّعِهِ، ثُمَّ يُفْعَلُ بِسَائِرِ اْلأَعْمَالِ الْمَفْرُوْضَةِ مِثْلُ ذَلِكَ

“Amalan yang pertama kali dihisab dari seorang hamba nanti pada hari kiamat adalah shalat wajib. Jika ia sempurnakan shalat yang wajib tersebut maka sempurna amalannya, namun jika tidak dikatakanlah, ‘Lihatlah, apakah orang ini memiliki amalan tathawwu’ (shalat sunnah)?’ Bila ia memiliki amalan tathawwu’, disempurnakanlah shalat wajib yang dikerjakannya dengan shalat sunnahnya. Kemudian seluruh amalan yang difardhukan juga diperbuat semisal itu.” (HR. Ibnu Majah no. 1425 dan lainnya, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Sunan Ibni Majah dan Al-Misykat no. 1330-1331)


Amalan Yang Dapat Menyakiti Iblis
“Apa yang kau rasakan jika melihat seseorang dari umatku yang hendak shalat?”
“Aku merasa panas dingin dan gemetar.”
“Kenapa?”
“Sebab, setiap seorang hamba bersujud 1x kepada Allah, Allah mengangkatnya 1 derajat.”
“Jika seorang umatku berpuasa?”
“Tubuhku terasa terikat hingga ia berbuka.”
“Jika ia berhaji?”
“Aku seperti orang gila.”
“Jika ia membaca al-Quran?”



Shalatlah walaupun dalam keadaan apapun

Berikut ini adalah gambar-gambar Muslim Uzbekiztan yang menunjukan kekhusyukan shalatnya walaupun dalam keadaan dingin, .

 Tetap khusyu shalatnya

 Kasihan Anak Kecilnya

  Tua Muda tetap Shalat

Sampai-sampai menggigil


Beku Dah Jidatnya

Shalat walaupun dalam keadaan Was-was

   Shalat Berjamaah di Somalia


Shalat Berjamaah di Gaza




Gambar Shalatnya seorang Presiden yang patut dicontoh presiden kita


MAHMOUD AHMADINEJAD 


Shalat di Dalam Laut



Ini Patut dicontoh Timnas Kita





Dan Yang Perlu Diingat,Ajal kita tidak bisa diduga kapan saja,dimana saja,siapa saja...


Meninggal dalam keadaan SHALAT



Subhanallah, Maha suci Allah...

by ,,, http://thelordakhilles.blogspot.com/2010/12/shalat.html

Gerakan Sholat Mengandung Terapi Kesehatan

Sholat itu tiang agama

 

Dalam salah satu hadits Nabi disebutkan “asholatu imanuddin“, sholat itu adalah tiang agama, orang yang sholat adalah yang menghidupkan agama dan orang yang tidak sholat adalah yang mematikan agama.
Secara harfiah sholat merupakan tiang agama, maka siapa yang sholat dia telah menegakkan agamanya, dan yang tidak sholat berarti dia telah menghancurkan agamanya.
Menurut pandangan ulama-ulama tasawuf yang ditinjau dari filsafat Rasulullah SAW, mengungkapkan sholat itu merupakan tiang agama. Agama memiliki 3 (tiga) pilar yaitu :
  1. Iman
  2. Ikhsan
  3. Islam
Iman Aqidah dengan ilmu tauhidnya, ikhsan : tashawuf, moral akhlaknya dan Islam : syariah ilmu fikihnya. Kalau dikatakan bahwa sholat merupakan tiang agama berarti sholat itu menunjang keimanan, menunjang syariah dan menyempurnakan akhlak manusia. Kemudian bagaimana letak Aqidah keimanan di dalam sholat itu terbagi menjadi 6 (enam) komitmen iman di dalam sholat menurut khujjatul Islam, Imam Ghozali adalah :
  1. Komitmen untuk membesarkan Allah SWT, itu merupakan isi sholat.
  2. Komitmen untuk mengagungkan Allah SWT.
  3. Komitmen untuk memuji Allah SWT.
  4. Lomitmen untuk mensucikan Allah.
  5. Komitmen untuk mengesakan Allah.
  6. Do’a.
Jadi semua ucapan dan gerakan sholat menjawab keenam komitmen tersebut. Kenapa berdiri, mau membesarkan. Kenapa harus mengangkat tangan, cara kita untuk membesarkan. Ada ruku, mau mengagungkan Allah, ada I’tidal, untuk memuji Allah, ada Sujud untuk mensucikan Allah. Kita duduk antara dua Sujud, adab untuk berdo’a. Kita tahiyat untuk mengesakan Allah, jadi semua dijawab baik ucapan maupun gerakan. Dalam ucapanpun sama seperti iftitah adab berdoa, ada fatihah yang dirukunkan untuk memuji. Ada ayat yang dibaca untuk mensucikan lagi.

Pembentukan moral dan akhlak

Dalam fenomena keragaman di Indonesia ini ada kerawanan, banyaknya aliran-aliran sesat, munculnya nabi-nabi palsu ini merupakan fenomena di akhir zaman. Memang Rasulullah SAW mengungkapkan dalam hadits ada 71 golongan, yaitu 1 ke surga dan 70 ke neraka. Nasrani terpecah menjadi 72 golongan, 1 ke surga dan 71 ke neraka. Umatku terpecah menjadi 73 golongan, yaitu 1 ke surga dan 72 ke neraka.
Dalam hadits yang lain pun sudah diterangkan bahwa ciri-ciri hari kiamat, kata nabi tidak akan terjadi kiamat sebelum dimunculkan 30 nabi palsu seperti dajjal. Dalam salah satu penelitian dari Islamic center di London beberapa tahun yang lalu bahwa terungkap dari bukti-bukti sejarah dan fakta yang mereka lihat, mereka teliti serta mereka pelajari selama 14 abad tidak kurang dari 10 nabi palsu sudah muncul dengan pengikut yang banyak termasuk di Meksiko , ada Aulia Muhammad, di Pakistan ada Mirza Ghulam Ahmad, di India Utara ada Sai Baba sudah mengaku nabi lagi dengan pengikutnya sudah jutaan orang. Diperkirakan pada tahun 2015 ada yang mendakwahkan dirinya menjadi tuhan.
Asholatu imanuddin, sholat adalah tiang agama yaitu pilar agama adalah keimanan, dengan keimanan itu akan menghidupkan sholat. Ikhsan, akhlak dan moral yang berarti ibadah sholat itu akan membentuk akhlak dan moral. Jika dibahas satu persatu ada 9 (sembilan) gerakan sholat yang dibahas oleh Imam Bukhori, dimana letak pembentukan moral dan akhlaknya.
Sujud mengajarkan manusia tawadhu rendah hati karena ada sifat sombong dan apa yang kita banggakan semuanya pasti jatuh ke bawah. Harta jangan disombongkan karena tidak dibawa mati, pangkat jangan disombongkan karena ada waktu pensiun. Ilmupun jangan disombongkan karena dari Allah. Kegagahan tidak perlu dibanggakan karena ada waktu sakit, semuanya itu perlu dilatih melalui ibadah Sujud.
Ada ruku yang mengagungkan Allah, dan kesempurnaan hanya milik Allah. Kita sadar pada waktu ruku karena manusia tidak ada yang sempurna. I’tidal untuk memuji Allah, agar supaya kita mau mensyukuri nikmat dan jangan menjadi orang yang serakah dan kufur nikmat. Salam merupakan penjabaran dari silaturahmi antara satu mukmin dengan mukmin yang lain.
Sholat itu tiang agama adalah membentuk iman, membentuk syariat dan membentuk moral. Makna syariat adalah untuk melatih disiplin, selama ini kita hanya mengandalkan sisi fikihnya saja seperti wajib, haram, sunnah, makruh dan mubah, tetapi kalau dilihat dari segi filsafat syariat ini justru akan memberikan hikmah, dalam kehidupan kita.
Makanya di dalam Al qur’an tidak kurang dari 40 sasaran ayat sholat. Ada sholat yang dihubungkan ibadah dengan do’a, dengan keluarga, dengan ekonomi, dengan gerakan dan dengan waktu. Sekarang ada pertanyaan kenapa Allah SWT menetapkan untuk melakukan sholat? Dalam tafsir ilmiah Al Azhar Kairo, itu terbantu oleh penelitian dari ilmuwan Cina, kenapa Allah menetapkan waktu-waktu sholat.

Gerakan mengandung energi

Dalam buku kuno Cina telah mengungkapkan periode alam semesta dalam 24 jam ini rupanya terjadi beberapa periode. Dalam buku itu terjawab ada hubungan antara manusia dengan alam di sekitar dan ini melalui waktu sholat terbukti bahwa energi alam dengan manusia terjadi sirkulasi yang amat seimbang, makanya Allah SWT menetapkan waktu-waktu sholat itu.
Kenapa sholat harus 5 kali dalam sehari ? Menurut pendapat ilmuwan Cina :
  • Ada energi api akan keluar pada waktu jam 12.00 siang sampai sore, untuk mengobati jantung dan ginjal itu .
  • Dalam gerakan sholat ashar adalah siklus dari panas ke dingin mereka menyebutnya terapi kandung kemih. Secara alamiah gerakan ashar itu ternyata memisahkan zat-zat kimia dalam tubuh kita
  • Ada energi air yang keluar pada waktu jam 6 sore setelah terbenamnya matahari yang mereka menyebutnya bahwa maghrib itu menterapi ginjal.
  • Gerakan isya yaitu setelah mega merah hilang, ini mereka menyebutnya sebagai terapi yang mengurangi kelebihan energi. Ada energi kayu yang keluar pada waktu jam 11 malam, dia yang menghancurkan racun-racun yang ada dibadan kita, dan menurut ilmuwan Cina racun itu bakar kayu untuk membuang racun di otak.
  • Kemudian jam 02 pagi otak dibersihkan oleh energi kayu, dan selanjutnya Allah menyediakan dan mengisinya untuk sholat tahajud pada waktu sepertiga malam. Ilmuwan di Jerman melakukan penelitian Prof. Dr. Sholeh seorang guru besar Universitas Airlangga, telah membuktikan bahwa tahadjud yang teratur dan disiplin akan mencegah kanker, stres dan infeksi oleh sebab itu jika orang melakukan dengan teratur memiliki emosi yang positif. Energi udara keluar pada jam 02
  • Jam 03 pagi energi logam yang menterapi kita.
  • Jam 06 pagi melakukan sholat dhuha untuk menterapi pencernaan.
Dalam gerakan sholat para ilmuwan Cina bahwa 9 (sembilan) gerakan sholat, atau disebut dengan gerakan suprayoga karena energi itu akan masuk ke syaraf di tangan dan cara yang paling tepat untuk menangkap energi itu karena kita takbir waktu mengawali sholat, takbir waktu bangun dari ruku di situlah energi masuk.
Menurut Rasulullah SAW meletakkan pergelangan tangan kanan di atas pergelangan tangan kiri yang berarti tangan kiri dijepit oleh jari tangan kanan, menjepit pembuluh balik tangan kiri yang menyebabkan pembuluh tangan kanan mengembang selama imam membacakan al fatihah dan surah. Di saat kita mau ruku tangan diangkat semprotan dari tangan kanan itu langsung ke telinga ke mata dan sebahagian otak.
Ruku melenturkan memori otak dan ginjal. Sujud menurut para ilmuwan Cina korener dan oksigen, posisi Sujud pembuluh jantung mengembang. Duduk pada tahiyat awal mereka mengatakan pembakaran mengefektifkan kelenjer keringat dan pencegahan pengapuran dan tahiyat akhir menterapi keseimbangan dan wasir. Duduk antara dua Sujud mereka menyebutnya duduk keperkasaan karena menarik syaraf dibawah lutut dan dipangkal paha.
Jadi kita tidak heran bahwa Allah menekankan gerakan sholat dan waktu sholat, ini merupakan syariah yang menerapi kita dan harus diperhatikan dan itulah makna asholatu imanuddin dan sholat merupakan tiang agama. Semoga Allah SWT memberikan petunjuk dan kemudahan bagi kita. Amien.

by,,http://islam.online.cm/gerakan-shalat-mengandung-terapi-kesehatan.html

Kriteria Calon Penghuni Neraka

Orang-orang Ingkar dan Keras Kepala Calon Penghuni Neraka

Dalam surat Qaf, Allah Subhanahu wa Ta’ala menerangkan beberapa sifat penghuni neraka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dan yang menyertai dia berkata: “Inilah yang tersedia pada sisiku telah siap.” (Allah berfirman) “Lemparkanlah olehmu berdua ke dalam neraka semua orang yang sangat ingkar dan keras kepala, yang sangat menghalangi kebajikan, melanggar batas lagi ragu-ragu, yang menyembah sesembahan yang lain beserta Allah, maka lemparkanlah dia ke dalam siksaan yang sangat.” (Qaf: 23-26)

Baca entri selengkapnya »

Betapa Dahsyatnya dan Betapa Mengerikannya Siksaan di Dalam Neraka

(Artikel ini merupakan transkrip dari rekaman ceramah yang disampaikan dengan penuh keharuan dan sangat menggetarkan hati, oleh Al Ustadz Dzulqarnain Al Makassari. Untuk mendengar rekaman aslinya silahkan klik link ini :
http://www.4shared.com/file/145890471/cbe07b9f/05_Betapa_Dahsyatnya_dan_Betapa_Mengerikannya_Siksaan_di_Dalam_Neraka_Al_Ustadz_Dzulqarnain_Al_Makasari_wwwkajiansunnahwordpresscom.html

 

…Wahai hamba Allah, kaum Muslimin, ketahuilah sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala menciptakan makhluk supaya mereka mengenal Allah Subhanahu wata’ala dan menyembah-Nya dan supaya mereka takut kepada-Nya. Dan Allah Subhanahu wata’ala telah menggambarkan tentang pedihnya siksaan-Nya dan dahsyatnya api Neraka-Nya di dalam Al Quranul karim dengan pensifatan yang sedemikian banyak dan pengulangan yang beraneka ragam.

Seluruh hal tersebut Allah Subhanahu wata’ala sifatkan tentang api Neraka (An-Naar) dan apa yang Allah Subhanahu wata’ala siapkan berupa siksaan dan kepedihan dan yang terkandung di dalamnya berupa makanan dari zaqqum, addhori’, air yang mendidih, belenggu, dan rantai yang membuat getar hati orang-orang beriman yang takut kepada Allah Subhanahu wata’ala yang maha perkasa lagi maha kuat. Dan membuat getar hati para hamba yang menyadari dirinya bahwa dia akan berdiri di depan Allah Subhanahu wata’ala yang maha perkasa.

Sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala telah memperingatkan dari api Neraka dan demi Allah!… tidaklah Allah Subhanahu wata’ala memperingatkan kepada hamba-Nya dan membuat mereka takut kepada sesuatupun yang lebih keras dan lebih dahsyat dari api Neraka.

Baca entri selengkapnya »

Kedzaliman adalah Kegelapan pada Hari Kiamat

Rasul yang mulia Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

“Kedzaliman adalah kegelapan pada hari kiamat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Maknanya bahwa di hari akhirat kelak, para pelaku kedzaliman tidak akan mendapatkan arah/jalan yang akan dituju (berada dalam kegelapan yang menakutkan) dan pelakunya akan ditimpa berbagai kesempitan dan kesulitan di masa-masa panjang saat huru-hara hari akhirat kelak.

Menanti Tanda-tanda Kekuasaan Allah di Akhir Zaman

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam sebuah hadits:

“Masa saling berdekatan, ilmu berkurang, kepelitan tersebar, berbagai fitnah muncul, dan banyak kekacauan.” Mereka bertanya: ”wahai Rasulullah, apakah kekacauan itu?’ Beliau menjawab: “pembunuhan demi pembunuhan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu)

Disini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberitakan tentang sebuah masa yang sangat buruk. Di mana ilmu berkurang, kepelitan tersebar, serta muncul berbagai fitnah, dan kekecauan. Masa kita ini adalah saat yang tepat untuk kita memahami hadits diatas.


Kiamat Sudah Dekat Namun Manusia Tak Mau Mengerti

 

Dari Anas bin Malik : Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasalam bersabda:

“Aku diutus, dan kiamat (demikian dekat) sebagaimana (dekatnya) dua jari ini.” Beliau rapatkan jari telunjuk dan jari tengah.  (Takhrij & Makna Hadits kami salin pada bagian catatan kaki)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Tidak adalah kejadian kiamat itu, melainkan seperti sekejap mata atau lebih cepat (lagi). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (An-Nahl: 77)

Jika dekat, kenapa kiamat tak kunjung tiba?

Kabar dekatnya kiamat telah berlalu empatbelas abad silam. Mungkin ada yang bertanya: Jika kiamat telah dekat, kenapa hingga saat ini belum ditegakkan?

Dalil-dalil Qur’an dan Sunnah Tentang Tanda-tanda Datangnya Kiamat

 

Hanya Allah Subhanahu Wata’ala Yang Tahu Tentang Kapan Datangnya Kiamat

Hal ini telah disampaikan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya:

“Mereka bertanya kepadamu tentang Kiamat: ‘Kapankah terjadinya.’ Katakanlah: ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang hari Kiamat itu adalah pada sisi Rabb-ku; tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba.’ Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang hari Kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.’” [Al-A’raaf: 187]

Munculnya Ya’juj dan Ma’juj : Apakah Bangsa Perusak Ini 

 


Penulis : Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin

Ya`juj dan Ma`juj, bangsa yang nanti akan muncul menjelang hari kiamat memang sudah ada sekarang di sebuah wilayah yang dipagari oleh sebuah “benteng”.  Namun benarkah mereka telah berhasil menembus dinding besi dan tembaga yang mengisolir mereka selama ini kemudian mewujud dalam bangsa yang mendiami wilayah Rusia dan negara-negara pecahan Soviet di Asia Tengah dan sebagian Eropa? Dan benarkah mereka adalah bangsa Mongol (Tartar)?

Munculnya Ya’juj dan Ma’juj : Sebagai Bangsa Perusak dan Proses Kebinasaan Mereka

Penulis : Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi

Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah mengingatkan manusia akan munculnya Ya’juj dan Ma’juj  di akhir zaman, seperti dalam firman-Nya (artinya) :

“Hingga apabila dibukakan (dinding) Ya`juj dan Ma`juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. Dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar (hari berbangkit), maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang yang kafir. (Mereka berkata): ‘Aduhai, celakalah kami, sesungguhnya kami adalah dalam kelalaian tentang ini, bahkan kami adalah orang-orang yang zhalim’.” (Al-Anbiya`: 96-97)

Baca entri sele

Munculnya Ya’juj dan Ma’juj : Bangsa Perusak Yang Akan Muncul Di Akhir Zaman

Penulis : Al-Ustadz Muhammad Umar As-Sewed

Kemunculan sebuah bangsa yang akan menciptakan kekacauan serta kerusakan di muka bumi telah ditakdirkan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai salah satu penanda kiamat besar. Siapakah dan bagaimanakah mereka? Di dalam beberapa hadits tentang tanda-tanda hari kiamat kubra, disebutkan ada sepuluh tanda hari kiamat. Di antaranya adalah keluarnya Ya`juj dan Ma`juj.

Berita tentang keluarnya Ya`juj dan Ma`juj bukan hanya mutawatir, bahkan disebutkan dalam Al-Qur’an surat Al-Anbiya’ ayat 96-97:

“Hingga apabila dibukakan (dinding) Ya’juj dan Ma’juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. Dan telah dekatlah datangnya janji yang benar (hari berbangkit), maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang yang kafir. (Mereka berkata): “Aduhai, celakalah kami, sesungguhnya kami dalam kelalaian tentang ini, bahkan kami adalah orang-orang yang dzalim.”


r

Munculnya Ya’juj dan Ma’juj : Peranan Dzulqarnain dalam Surat Al-Kahfi

Kisah Dzulqarnain telah diterangkan Al-Qur`an secara panjang lebar dalam Surat Al-Kahfi ayat 83-99. Berikut adalah penjelasannya.

 “Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Dzulqarnain. Katakanlah: ‘Aku akan bacakan kepadamu cerita tentangnya.’ Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu, maka diapun menempuh suatu jalan. Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbenam matahari, dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, dan dia mendapati di situ segolongan umat. Kami berkata: ‘Hai Dzulqarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka.’ Berkata Dzulqarnain: ‘Adapun orang yang aniaya, maka kami kelak akan mengadzabnya, kemudian dia dikembalikan kepada Rabbnya, lalu Dia mengadzabnya dengan adzab yang tidak ada taranya. Adapun orang-orang yang beriman dan beramal shalih, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah kami’.” (Al-Kahfi: 83-88)

Baca entri selengkapnya »

Tanda-tanda Kiamat : Munculnya Ad-Dukhan

Munculnya asap pada akhir zaman merupakan salah satu tanda kiamat besar yang ditunjukkan oleh dalil Al-Kitab dan As-Sunnah.

Dalil-dalil tentang hal ini dari Al-Qur`an adalah:

“Maka tunggulah hari ketika langit membawa asap yang nyata, yang meliputi manusia. Inilah adzab yang pedih.” (Ad-Dukhan: 10-11)

Baca entri selengkapnya »

Mengimani Munculnya Dajjal Al-Akbar

“Dajjal” acap menjadi topik seru yang dibicarakan banyak orang. Perkaranya pun kian hangat dengan munculnya orang-orang yang mengaku atau dianggap orang lain sebagai Dajjal, seperti yang dialamatkan pada Sri Sathya Sai Baba, seorang begawan dari India. Benarkah dia Dajjal? Tentu jawabnya bukanlah dia yang dimaksud dalam hadits-hadits Dajjal. Karena banyak sifat dan keadaan Dajjal yang tidak ada padanya. Dan tanda-tanda kiamat yang besar itu datang silih berganti dengan cepat sebagaimana disebutkan dalam sebagian hadits. Dan ini belum terjadi pada zaman ini.

Baca entri selengkapnya »

Sifat-sifat dan Bentuk Fisik Dajjal

Keluarnya Dajjal merupakan satu perkara yang pasti. Dajjal akan berusaha menyesatkan manusia dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sehingga orang yang beriman semestinya mengetahui sifat serta fitnah-fitnah Dajjal agar terhindar dari kesesatannya.

Baca entri selengkapnya »

Dajjal Sudah Ada di Sebuah Pulau

Asy-Sya’bi rahimahullahu mengatakan kepada Fathimah bintu Qais radhiyallahu ‘anha: “Beri aku sebuah hadits yang kamu dengar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang tidak kamu sandarkan kepada seorang pun selain beliau.” Fathimah mengatakan: “Jika engkau memang menghendakinya akan aku lakukan.” “Ya, berikan aku hadits itu,” jawab Asy-Sya’bi.   Fathimah pun berkisah: “…Aku mendengar seruan orang yang berseru, penyeru Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, menyeru ‘Ash-shalatu Jami’ah’. Aku pun keluar menuju masjid lantas shalat bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan aku berada pada shaf wanita yang langsung berada di belakang shaf laki-laki.

Baca entri selengkapnya »

Keluarnya Dajjal Sebagai Tanda Hari Kiamat

Setelah Imam Mahdi, satu penanda besar hari kiamat yang akan muncul adalah Dajjal. Dia berasal dari manusia dan merupakan sosok nyata. Kemunculannya akan didahului dengan sejumlah peristiwa besar. Di antara kewajiban seorang muslim adalah beriman kepada hari akhir dan apa yang akan terjadi sebelum dan setelahnya. Hari kiamat tidak ada yang mengetahui kapan terjadinya kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Baca entri selengkapnya »

Dalil-dalil Tentang Akan Munculnya Dajjal?

Dajjal yang sedang dipermasalahkan keberadaannya itu adalah seseorang dari bangsa manusia yang Allah Subhanahu wa Ta’ala munculkan di akhir zaman (dengan segala kekuasaan dan hikmah-Nya), sebagai fitnah (ujian) besar bagi umat manusia di muka bumi ini(*1), dan sebagai salah satu pertanda kuat semakin dekatnya hari kiamat(*2). Bentuk fisik Dajjal adalah: matanya buta sebelah (yang dengannya disebut Al-Masih), pada dahinya tertulis huruf (ك ف ر) yang berarti kafir di mana tulisan itu bisa dibaca oleh siapa saja yang di hatinya ada keimanan(*3), berambut sangat keriting (*4), bertubuh besar, dan sudah ada saat ini di sebuah pulau yang ada di tengah lautan (arahnya sebelah timur kota Madinah), dalam keadaan dibelenggu dengan belenggu besi yang amat kuat(*5).

Baca entri selengkapnya »

Menanti Tanda-tanda Kekuasaan Allah di Akhir Zaman

“Pada hari datangnya sebagian tanda-tanda Rabb-mu tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. Katakanlah: ‘Tunggulah oleh kalian sesungguhnya kamipun menunggu (pula)’.” (Al-An’am: 158)

 

Penjelasan Makna Ayat

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullahu berkata:

“Pada hari datangnya sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Rabbmu, yang merupakan kejadian yang luar biasa, yang dengannya diketahui bahwa kehancuran telah demikian dekat, dan kiamat tidak lama lagi. Maka tidak bermanfaat keimanan dari satu jiwa yang sebelumnya tidak beriman atau yang belum membuahkan kebaikan dalam keimanannya, yakni apabila telah dijumpai sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka tidak bermanfaat keimanan seorang yang kafir apabila dia hendak beriman. Tidak pula bermanfaat bagi seorang mukmin yang kurang beramal untuk semakin bertambah keimanannya setelah itu. Namun yang bermanfaat bagi dia adalah keimanan yang dia miliki sebelum itu serta kebaikan yang dia miliki yang diharapkan (bermanfaat) sebelum datangnya sebagian dari tanda-tanda tersebut. Dan hikmah dari semua itu jelas, di mana keimanan yang mendatangkan manfaat adalah keimanan terhadap perkara yang ghaib, dan merupakan pilihan dari seorang hamba (untuk beriman). Adapun bila tanda-tanda kekuasaan tersebut telah nampak, maka telah menjadi perkara yang disaksikan (bukan ghaib), sehingga keimanan tidak lagi berfaedah. Sebab, hal tersebut menyerupai keimanan yang terpaksa. Seperti keimanan orang yang tenggelam, yang terbakar, dan orang-orang semisalnya yang apabila telah melihat kematian, dia pun berusaha melepaskan apa yang dahulu dia yakini. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Maka tatkala mereka melihat adzab Kami, mereka berkata: ‘Kami beriman hanya kepada Allah saja dan kami kafir kepada sembahan-sembahan yang telah kami persekutukan dengan Allah.’ Maka iman mereka tiada berguna bagi mereka tatkala mereka telah melihat siksa Kami. Itulah sunnah Allah yang telah berlaku atas hamba-hamba-Nya. Dan di waktu itu, binasalah orang-orang kafir.” (Ghafir: 84-85)

Dan banyak hadits shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menerangkan bahwa yang dimaksud dengan sebagian dari ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah terbitnya matahari dari tempat terbenamnya. Dan di saat manusia melihatnya, maka mereka pun beriman. Namun keimanan mereka tidaklah bermanfaat dan telah tertutup pintu taubat atas mereka.

Tatkala ini merupakan janji yang dinanti terhadap orang-orang yang mendustakan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mereka beserta para pengikutnya menantikan kehancuran dan musibah, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan: ‘Katakanlah: tunggulah (munculnya salah satu dari tanda tersebut), sesungguhnya kami termasuk orang-orang yang menunggunya,’ sehingga kalian akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih berhak mendapatkan keselamatan.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman)

Al-Qurthubi rahimahullahu berkata: “Para ulama berkata: ‘Tidak bermanfaatnya keimanan seseorang di kala terbitnya matahari dari tempat terbenamnya, karena telah masuk ke dalam hati mereka perasaan takut yang melenyapkan setiap syahwat hawa nafsunya dan melemahkan setiap kekuatan dari kekuatan tubuhnya. Sehingga, manusia seluruhnya beriman karena mereka yakin akan dekatnya hari kiamat. Seperti keadaan orang yang mendekati kematian, yang memutuskannya dari berbagai dorongan melakukan perbuatan maksiat serta melemahkan tubuh-tubuh mereka. Barangsiapa bertaubat dalam keadaan seperti ini tidaklah diterima taubatnya, seperti tidak diterimanya taubat orang yang mendekati kematian. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima taubat seorang hamba selama nyawa belum sampai ke tenggorokan.” (HR. At-Tirmidzi dan Ahmad dari Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, dihasankan Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Al-Jami’ no. 1903)

Yaitu, selama ruhnya belum sampai ke ujung tenggorokan. Waktu itu merupakan saat di mana seseorang melihat secara langsung tempatnya di dalam surga atau neraka. Maka orang yang menyaksikan terbitnya matahari dari tempat terbenamnya juga seperti itu (keadaannya).

Oleh karenanya, sepantasnyalah setiap orang yang telah menyaksikan peristiwa tersebut atau yang memiliki hukum yang sama dengan yang menyaksikannya, taubatnya tertolak selama hidupnya. Sebab ilmunya tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta janji-janji-Nya telah menjadi sesuatu yang terpaksa.” (Tafsir Al-Qurthubi)

Ibnu Katsir rahimahullahu juga mengatakan: “Jika seorang kafir menampakkan keimanannya pada saat itu, maka tidak diterima darinya. Adapun bila dia seorang mukmin sebelum hari itu, jika dia baik dalam beramal, maka dia dalam kebaikan yang besar. Namun jika dia mengotori (imannya), lalu dia bertaubat saat itu, maka tidak diterima taubatnya.” (Tafsir Ibnu Katsir)

Tertutupnya Pintu Taubat

Ayat yang mulia ini menjelaskan tentang akan munculnya suatu waktu di mana Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak lagi menerima taubat orang-orang yang hendak bertaubat di masa itu. Yaitu di kala terbitnya matahari dari tempat terbenamnya, yang menandakan akan berakhirnya zaman dan bangkitnya hari kiamat. Di antara dalil-dalil yang menunjukkan tentang penafsiran sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala bahwa yang dimaksud adalah tanda-tanda hari kiamat yang besar tersebut, adalah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim rahimahullahu dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Ada tiga perkara yang jika telah muncul maka tidak bermanfaat keimanan seseorang yang tidak beriman sebelum munculnya atau dalam keimanannya tidak membuahkan kebaikan; Terbitnya matahari dari tempat terbenamnya, (munculnya) Dajjal, dan (keluarnya) daabbah (binatang melata yang berdialog dengan manusia dan memberitakan kepada mereka akan dekatnya hari kiamat).” (HR. Muslim, Kitabul Iman, Bab Az-Zaman Al-Ladzi la Yuqbalu fihi Al-Iman, 1/158)

Diriwayatkan juga oleh Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidak tegak hari kiamat hingga matahari terbit dari tempat terbenamnya. Apabila telah terbit demikian, dan manusia telah melihatnya maka merekapun beriman. Dan itu merupakan hari yang tidak bermanfaat keimanan bagi satu jiwa, yang dia tidak beriman sebelumnya atau tidak menghasilkan kebaikan pada keimanannya.” (HR. Al-Bukhari no. 4359 dan Muslim, 1/157)

Diriwayatkan juga dari Shafwan bin ‘Assal radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitakan:

“Bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala membuat sebuah pintu taubat di sebelah barat yang luasnya sejarak perjalanan 70 tahun, yang tidak akan ditutup selama matahari belum terbit dari tempat tersebut. Dan itulah maksud dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

‘Tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman…’.”(HR. At-Tirmidzi no. 3536, dan beliau menshahihkannya serta dihasankan Al-Albani rahimahullahu)

Al-Imam Muslim rahimahullahu juga meriwayatkan dari hadits Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma bahwa ia berkata: ‘Aku telah mendengar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam satu hadits yang tidak aku lupakan. Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Sesungguhnya tanda hari kiamat yang paling pertama keluar adalah terbitnya matahari dari tempat terbenamnya’.”

Juga diriwayatkan dari hadits Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada suatu hari: “Tahukah kalian ke mana perginya matahari ini?” Mereka (para sahabat) menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau mengatakan: “Sesungguhnya dia pergi ke tempat menetapnya di bawah ‘Arsy, lalu dia merendahkan diri sambil sujud. Senantiasa dia dalam keadaan demikian hingga dikatakan kepadanya: ‘Terbitlah dari tempat yang engkau kehendaki.’ Dia pun terbit dari tempat biasanya terbit. Lalu dia terus berjalan, dalam keadaan manusia tidak terkejut sedikit pun akan hal itu. Sampai dia kembali berhenti lalu merendahkan diri sambil sujud di tempat menetapnya di bawah ‘Arsy. Dan manusia tidak terkejut sedikit pun dari hal itu. Lalu dikatakan kepadanya: ‘Terbitlah dari tempat terbenammu!’ Lalu terbitlah dia dari tempat terbenamnya.” Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tahukah kalian hari apa itu?” Mereka menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau menjawab: “Itu adalah hari yang tidak bermanfaat keimanan bagi satu jiwa yang tidak beriman sebelumnya atau keimanan yang padanya tidak menghasilkan kebaikan.” (HR. Muslim, 1/159)

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu berkata: “Ini merupakan riwayat-riwayat yang saling menguatkan yang sepakat menunjukkan bahwa jika matahari terbit dari tempat terbenamnya, tertutuplah pintu taubat dan tidak terbuka lagi. Dan hal tersebut tidak dikhususkan pada saat hari terbitnya (dari tempat terbenamnya saja), namun terus berlanjut hingga hari kiamat.” (Fathul Bari, 11/354)

Rujukan tulisan : bersumber pada tulisan karya Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi, dengan penyederhanaan bahasa atau peringkasan untuk kemudahan bagi sebagian penuntut ilmu.  Bila ingin melihat tulisan aslinya silahkan kunjungi  link berikut ini : http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=535

 

Allah Telah Berikan Peluang Kami Untuk Menjadikan Ramadhan Sebagai Penghapus Dosa-dosa Dengan Ikhlas Menunaikan Ibadah

Hari ini terlalu banyak yang telah berubah dan menjadi baik. Orang-orang yang semula kukenal tak pernah sholat, kini tak pernah tertinggal berjama’ah di masjid. Temanku yang dulu masih terbata-bata membaca Al Qur’an, sekarang sudah hafal beberapa juz. Juga tidak sedikit aku temui perempuan yang semula berpakaian seronok, kini bahkan nyamukpun tak menemukan sedikit celah untuk bisa mendarat di kulitnya. Subhaanallah, banyak sekali yang telah berubah…, kecuali diriku.

Hari ini tak sedikit orang yang kukenal baik telah pergi, meninggalkan alam dunia, meninggalkan aku… -yang juga belum berubah-. Dan hari ini kembali ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa mempertemukan aku dengan bulan Ramadhan. Artinya, sekali lagi ALLAH, mungkin yang terakhir kali, memberikan aku kesempatan, memberikan aku peluang.


Ya, peluang itu datang lagi. Betapa tidak? Bukankah artinya ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa telah memanjangkan umurku, yang dengannya peluangku untuk memperbaiki diri serta mengumpulkan bekal masih terbuka. Bukankah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah berkata:

(Setiap anak Adam pasti punya kesalahan. Dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang bertobat)

Ya, hari ini kembali ALLAH memanggilku dengan panggilan terhormat serta memberikan harapan dan peluang untuk menjadi hamba-Nya yang bertaqwa.

(Artinya: Hai Orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian puasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian menjadi orang yang bertaqwa.) (Al Baqarah:183)

Ya, harus kuakui semua ni’mat ini, yakni panggilan dan peluang ini, sebagaimana juga harus kuakui akan dosa-dosaku selama ini. Maka pantaslah jika aku berharap ALLAH Subahaanahu wa ta’alaa akan mengampuniku, karena tak ada yang dapat memberi ampunan kecuali DIA. Ya, aku ingat betul sebuah do’a yang diajarkan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam :

(Barang siapa yang pagi atau sorenya berdo’a: “Allahumma, Engkaulah rabb-ku. Tak ada yang layak diibadahi selain Engkau. Engkaulah yang telah menciptakan aku, dan aku adalah hamba-MU, dan aku terikat perjanjian dengan MU segenap kemampuanku. Aku berlindung kepada MU dari segala keburukan yang aku perbuat. Aku akui akan ni’mat-MU atas diriku, begitu pula aku akui akan dosa-dosaku. Maka ampunilah aku. Karena sesungguhnya tak ada yang dapat memberi ampunan kecuali Engkau.” kemudian ia mati di pagi atau malamnya, niscaya ia masuk surga.)

 

Aku sangat yakin ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa akan mengampuni dosa-dosaku, selain dosa besar,..oh semoga aku selamat darinya, sebagaimana yang kuketahui dari lisan Nabi-NYA Shallallahu alaihi wa sallam :

(Antara Ramadhan ke bulan Ramadhan merupakan penghapus dosa, selain dosa besar) 

Ya, peluang itu datang lagi. Aku berada di tengah-tengah waktu di mana seandainya aku melakukan satu kebaikan ALLAH Shallallahu alaihi wa sallam akan membalasnya berpuluh bahkan beratus kali lipat. Jika aku menolong seseorang itu seakan aku menolong berpuluh bahkan beratus orang. Jika aku bersedekah sekali itu seakan aku bersedekah puluhan bahkan ratusan kali. Sanggupkah aku lakukan yang demikian itu di waktu selain Ramadhan ? Mungkinkah yang demikian itu terjadi di waktu selain Ramadhan?

Ya, peluang itu datang lagi. Aku berada di tengah-tengah waktu di mana tak ada satu kebaikan yang aku lakukan lebih dihargai di hadapan ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa selain di waktu ini, tentunya selain amalan khusus di waktu ini, yakni shaum. Melalui Hadits Qudsyi, ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa telah berfirman:

(Setiap amalan anak Adam kembali bagi nya, kecuali Shaum. Karena shaum itu untuk Aku. Aku sendiri yang akan mengganjarnya)

Paling tidak, seandainya aku berpuasa dan menegakkan malam-malamnya dengan sholat taraweh, ALLAH Subhaanahun wa ta’alaa akan mengampuni dosa-dosaku yang telah lampau. Ya, itu aku yakini, karena Nabi Yang Mulia Shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda:

(Barang siapa yang menegakkan ramadhan didasari keimanan dan mengharapkan pahala, niscaya diampuni bagi nya dari dosa-dosanya yang lampau.)

Ya, tentu saja jika aku percaya dan yakin akan wajibnya puasa ini. Jika aku tidak mengatakan bahwa puasa ini sekedar adat kebiasaan. Jika aku tidak menyambutnya sebagai semata ritual budaya tahunan. Tetapi aku menerimanya sebagai sebuah kewajiban yang ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa bebankan kepada setiap muslim. kemudian aku mengharapkan ganjaran dari ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa -tidak dari selain DIA- atas puasaku ini, dan atas amalan-amalan ramadhanku ini.

Ya, aku harus mengharapkan ganjaran-NYA, dan ini bukan berarti aku tidak ikhlas dalam beribadah, seperti kata sebagian orang yang aku tahu itu keliru. Justru dengan mengharapkan ganjaran-NYA lah tanda keikhlasan itu. Bukankah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam sendiri berdo’a dan meminta kepada ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa :

(Ya ALLAH. Sesungguhnya aku mengharapkan dari MU surga dan berlindung kepada MU dari api neraka.)

Dan Rasulullah SHALALLAHU ‘ALAIHI WASALAM juga bersabda:

(Apabila datang bulan Ramadhan. Pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan syaithan-syaithan dibelenggu)

Ya, peluang itu datang lagi. Peluang di mana pintu-pintu rahmat-ALLAH terbuka lebar, sementara pintu-pintu neraka ditutup. Bahkan syaithan pun dibelenggu sehingga tidak leluasa mengganggu manusia, termasuk mengganggu diriku. Tinggallah aku sendiri. Apa yang akan aku lakukan di saat pahala dan ampunan ALLAH begitu mudah untuk diraih?

Ya, peluang itu datang lagi. Peluang untuk mendapatkan satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Lailatul Qadar !!! Malam di saat segala kebaikan dilipatgandakan lebih dari malam-malam yang lain. Malam yang seharusnya kupersiapkan diriku, manakala mendapatinya, berdo’a dengan do’a yang Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam ajarkan kepada Aisyah radhiallahu anha

(Ya ALLAH. Sesungguhnya Engkau Maha Pema’af, maka ma’afkanlah aku.)

Ya, peluang itu datang lagi. Dan aku tahu, setiap manusia senantiasa butuh momentum. “Inilah saatnya ! Mumpung ! Kapan lagi ?” Semua itu merupakan ungkapan yang menunjukkan betapa sebuah momentum dapat menjadi motivator yang mampu melipatgandakan kemauan dan semangat.

Karenanya, ini pulalah saatnya untuk mulai menghentikan kebiasaan-kebiasaan burukku, dan mulai membiasakan berbagai kebaikan. Inilah saatnya meninggalkan berbagai kemaksiatan yang telah menjadi kebiasaanku, kemudian menjadikan berbagai amalan sholih dan ketaatan sebagai kebiasaanku yang baru.

Ya, peluang itu datang lagi dan sungguh tak boleh aku lupakan satu peristiwa penting di saat seorang manusia termulia di muka bumi ini meng-amin-kan ucapan dari seorang malaikat terkemuka di langit. Yakni, ketika Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam meng-amin-kan ucapan Jibril alaihissalaam:

(Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu: Bahwasanya Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam ketika di atas mimbar pernah mengucapkan, ” Amin!, Amin!, Amin!” Maka beliaupun ditanya,” Apa yang menyebabkan engkau mengatakan itu, wahai Rasulullah?” Maka beliaupun menjawab, “Jibril berkata kepadaku :Merugilah orang yang mendapati bulan Ramadhan tetapi tidak memperoleh ampunan. Maka aku katakan: Amin…”

Ya, inilah saatnya meraih berjuta pahala, inilah saatnya meraih berjuta ampunan. Boleh jadi ini peluang terakhir bagiku. Dan alangkah merugi serta tak bersyukurnya aku seandainya bulan Ramadhan telah berlalu, sementara tak kuraih peluang ini.


Sumber :
Judul asli : Peluang itu Datang Lagi !!!  ditulis oleh Abu Khaulah Zainal Abidin,  http://rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com

Dalil-dalil Qur'an dan Sunnah Tentang Isalm Sebagai Agama Yang Sempurna

Islam adalah ajaran yang lengkap dan sempurna. Segala permasalahan demi kemaslahatan manusia untuk kehidupan mereka di dunia dan akhirat telah diuraikan secara utuh dan sempurna. Berikut ini dipaparkan sebagian dalil dari Al Quran dan As Sunnah yang menunjukkan kesempurnaan tersebut.


1. Dalil-dalil AL-QUR’ANUL KARIM

Allah Ta’ala berfirman dalam Kitab-Nya yang mulia:

“Pada hari ini, Aku sempurnakan bagi kamu agama kamu, dan Aku cukupkan ni’mat-Ku kepadamu, dan Aku ridla Islam jadi agamamu..” (QS,  Al Maidah 3.)

Ibnu Katsir rahimahullahu Ta’ala mengatakan: ”Ini adalah ni’mat Allah Ta’ala paling besar terhadap ummat ini, di mana Allah Ta’ala telah menyempurnakan agama mereka, sehingga tidak lagi membutuhkan agama yang lain, dan tidak pula memerlukan Nabi selain Nabi mereka Muhammad shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam. Karena itulah Allah Ta’ala mengutus beliau sebagai penutup para Nabi dan mengutusnya kepada seluruh manusia dan jin. Tidak ada sesuatu yang halal kecuali apa yang dihalalkannya. Tidak ada perkara yang haram melainkan apa yang diharamkannya. Dan tidak ada agama (yang benar) kecuali apa yang disyari’atkannya.  Semua berita yang disampaikannya adalah benar dan pasti. Bukan dusta dan pertentangan ( Ibnu Katsir 2/13.)

Demikian pula dalam firman Allah Ta’ala lainnya :

“Tidaklah ada yang Kami lewatkan dalam Kitab ini sedikitpun….”  (QS, Al An’am 38.)

“Dan telah Kami turunkan kepadamu sebuah Kitab sebagai penjelas segala sesuatu, petunjuk, rahmat dan berita gembira bagi kaum muslimin..”  (QS, An Nahl 89)

“Dan segala sesuatu telah Kami terangkan secara terperinci..”  (QS, Al Isra` 12)

2. Dalil-dalil SUNNAH AN-NABAWIYAH

Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (1/16), Ahmad (4/126), Al Hakim (1/175), Ath Thabrani dalam Mu’jamul Kabir (18/247), dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam takhrij As Sunnah karya Ibnu Abi ‘Ashim (hal 19) dari hadits ‘Irbadl bin Sariyah radliyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda:

“Sungguh, aku tinggalkan kalian di atas yang putih bersih, malamnya seperti siangnya. Tidak akan menyimpang daripadanya sepeninggalku kecuali orang yang celaka.”

Diriwayatkan oleh Imam Muslim (3/1472, 1844), An Nasai dalam Al Kubra (4/431), Ibnu Majah (2/2956), dan Al Baihaqi (8/169), dari hadits ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash radliyallahu ‘anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam, beliau bersabda:

“Sesungguhnya tidak seorangpun dari Nabi yang datang sebelumku melainkan wajib atasnya menunjukkan ummatnya kebaikan yang diketahuinya dan memperingatkan mereka dari kejahatan yang diketahuinya.”

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad (5/152), Ath Thabrani (2/354) (Al Haitsami mengatakan rawi-rawi Thabrani rawi yang shahih kecuali Muhammad bin ‘Abdullah bin Yazid Al Muqri, dia tsiqah (terpercaya), sedangkan dalam musnad Ahmad ada rawi yang tidak disebutkan namanya. (Majma’uz Zawaid 8/264)), bahwa dari Abu Dzar radliyallahu ‘anhu, katanya:

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam telah wafat. Dan tidak ada seekor burungpun yang mengepakkan sayapnya di angkasa melainkan telah beliau terangkan kepada kami ilmunya.”

Diriwayatkan oleh Imam Muslim (1/223,262), At Tirmidzi (1/16,24), An Nasai (1/40, 72), Abu Daud (1/3,7), Ibnu Majah (1/15,115) dari Salman Al Farisi radliyallahu ‘anhu, katanya:

“Seorang musyrik berkata kepadanya sambil mengejek:”Sungguh, saya lihat Shahabat kalian ini (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam) mengajarkan segala-galanya kepada kalian sampai urusan buang air besar?” Salman mengatakan:”Betul. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam memerintahkan kami agar tidak menghadap kiblat (Ka’bah) atau memunggunginya ketika buang air besar, dan agar kami jangan istinja` (cebok) dengan tangan kanan, serta agar kami mencukupkan dengan tiga buah batu (istijmar) tidak dengan tulang dan kotoran hewan yang kering.”  (Redaksi hadits dari Ibnu Majah)

Diriwayatkan oleh Al Baghawi (Syarhus Sunnah 14/303-305), dari Zaid Al Yami dan ‘Abdul Malik bin ‘Umair dari Ibnu Mas’ud radliyallahu ‘anhu, katanya:”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda:

“Wahai manusia, tidak ada satupun yang mendekatkan kalian kepada surga dan menjauhkan kalian dari neraka melainkan telah aku perintahkan kepada kalian. Dan tidak ada satupun yang mendekatkan kalian kepada neraka dan menjauhkan kalian dari surga melainkan telah aku larang kalian daripadanya..”

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari (Al Fath 6/2739), dari Masruq dari ‘Aisyah radliyallahu ‘anha, katanya:”Siapa yang mengatakan kepadamu bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam menyembunyikan sesuatu dari wahyu Allah Ta’ala, maka janganlah kamu percayai, karena sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman:

“Wahai Rasul. Sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu. Kalau tidak kamu kerjakan, berarti kamu tidak menyampaikan risalah-Nya..”  (QS, Al Maidah 67.)

Diriwayatkan oleh Imam Muslim (1/160), dari ‘Aisyah, katanya:”Seandainya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam menyembunyikan sesuatu yang diturunkan oleh Allah kepadanya, tentunya akan dia sembunyikan ayat ini:

“Dan ingatlah ketika kamu mengatakan kepada orang yang telah Allah melimpahkan keni’matan kepadanya dan kamu (juga) memberi ni’mat kepadanya: “Tahanlah isterimu, dan bertakwalah kepada Allah.” Kamu sembunyikan dalam dirimu apa yang Allah akan menampakkannya. Kamu takut kepada (omongan) manusia, padahal Allah yang lebih berhak kamu takut kepada-Nya.”  (QS, Al Ahzab 37.)

3. Penjelasan PARA ‘ULAMA

Ibnul Majisyun mengatakan: “Saya pernah mendengar Imam Malik berkata: “Siapa yang melakukan suatu kebid’ahan dan dianggapnya baik, berarti dia menuduh Muhammad shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam telah mengkhianati risalah. Karena sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman:

“Pada hari ini, Aku sempurnakan bagi kamu agama kamu, dan Aku cukupkan ni’mat-Ku kepadamu, dan Aku ridla Islam jadi agamamu..”  (QS, Al Maidah:3.10)

Maka apapun yang pada saat itu bukan ajaran agama, maka pada hari ini juga bukan ajaran agama.”

  

sumber:  DALIL-DALIL KESEMPURNAAN SYARI’AT ISLAM,  ditulis oleh Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Hafizhahullah